Tampilkan postingan dengan label Peneliti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peneliti. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

Peneliti Bikin Perangkat Baterai dari Tumbuhan

Ilustrasi (Foto: Redorbit) Ilustrasi (Foto: Redorbit) WASHINGTON - Peneliti dari City College of New York (CCNY), bekerjasama dengan peneliti dari Rice University and the U.S. Army Research Laboratory, mengembangkan perangkat baterai ramah lingkungan.

Dilansir Redorbit, Jumat (14/12/2012), baterai "hijau" ini berasal dari bahan-bahan yang tidak berbahaya, sehingga aman bagi lingkungan ketika baterai itu dibuang. Komponen baterai baru ini menjanjikan baterai lithium-ion yang didukung dengan purpurin, yakni berasal dari akar tanaman.

"Baterai hijau adalah kebutuhan saat ini, namun ini tampaknya belum benar-benar mendapatkan perhatian. Ini adalah area yang memerlukan perhatian segera dan dorongan berkelanjutan," tutur Arava Leela Mohana Reddy, insinyur di Rice.

Ia mengatakan, fokus saat ini peneliti masih melakuka nriset pada baterai konvensional. Peneliti mendapatkan tantangan untuk tidak hanya mengembangkan baterai ramah lingkungan, tetapi juga peningkatan pada kapasitas.

"Isu-isu tersebut (peningkatan kapasitas) penting, begitu juga masalah-masalah seperti kesinambungan dan daur ulang," tuturnya. Menurutnya, purpurin telah digunakan selama berabad-abad dalam produksi tekstil untuk membuat warna seperti merah, orange serta merah muda.

Namun tim peneliti menemukan bahwa unsur purpurin juga bisa digunakan sebagai bahan dasar dan alternatif ramah lingkungan. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal akses terbuka, Scientific Reports. (fmh)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Sumber, diklikkanan


Minggu, 18 Mei 2014

Peneliti Identifikasi 3 Spesies Baru Primata Berbisa

Loris (Foto: Scienceagogo) WASHINGTON - Peneliti dari University of Missouri baru-baru ini mengidentifikasi tiga spesies loris (Nycticebus sp.). Hewan primata berbisa ini juga dikhawatirkan mengalami kepunahan.
Dilansir Scienceagogo
, Jumat (14/12/2012), peneliti mengatakan, terdapat kesalahan dalam klasifikasi tiga spesies baru ini sebelumnya, yang dimasukan ke dalam spesies hewan lainnya. Menurut Rachel Munds yang memimpin penelitian mengungkapkan, hewan ini dibagi ke dalam empat kelas yang berbeda.
Dengan membaginya ke dalam empat kelas yang berbeda, maka risiko kepunahan loris semakin terlihat ketimbang perkiraan sebelumnya. "Empat spesies terpisah lebih sulit untuk melindungi dari satu spesies," ujar Rachel.
Ia mengatakan, setiap spesies perlu untuk mempertahankan jumlah populasi dan memiliki habitat hutan yang cukup. "Sayangnya, disamping hilangnya habitat mereka (akibat penebangan pohon di hutan), ada permintaan pasar gelap yang menginginkan hewan tersebut," jelasnya.
Para oknum pedagang gelap ini, menurutnya, menjual loris sebagai hewan peliharaan digunakan sebagai alat peraga untuk foto wisata atau hewan ini dijadikan sebagai bahan obat-obatan tradisional Asia.
Peneliti Anna Nekaris menambahkan, hewan ini memerlukan habitat asli untuk seperti pohon dengan cabang-cabang. Namun, pemilik hewan ini jarang yang menyediakan tempat hidup yang persis seperti di habitat asli mereka.
"Bahkan di kebun binatang, mereka mengalami kesultian dalam memenuhi kebutuhan gizi mereka untuk memakan serangga tertentu, getah pohon dan madu (nektar). Selain itu, hampir semua primata dalam perdagangan hewan diambil dari alam liar," terangnya.
Bahkan, gigi berbisa yang dimiliki loris dihilangkan. Banyak dari hewan ini yang mati dalam kondisi kotor di pasar hewan peliharaan. Tidak hanya itu, ketika hewan ini sampai di rumah majikannya, kurangnya kebutuhan gizi dan habitat akan mempengaruhi kelangsungan hidup hewan nokturnal (aktif di malam hari) tersebut. (fmh)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.
Sumber, diklikkanan